Folklor Ponorogo: Ki Gunoseco dan Kisah Suminten Edan dari Desa Siman



Oleh:
Masrur Majiddin, Rafid Jazuli, Amelia Oktafiani
Wulan Kurnia Wiyahya, Rofi’ Khairunnisaa Taqiyah 
Mahasiswa Tadris Bahasa Indonesia
Universitas Islam Negeri Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo

Desa Siman terletak di titik perbatasan sejumlah desa dan kelurahan yang sejak lama menjalin hubungan sosial dan budaya secara harmonis. Di barat, Siman berbatasan dengan Desa Purbosuman, sementara di utara bersebelahan langsung dengan Kelurahan Tonatan yang memiliki peran penting dalam mobilitas warganya. Di timur, Desa Manuk menjadi tetangga yang turut membentuk dinamika sosial masyarakat, dan di selatan Desa Mbraut menutup batas administratif wilayah ini. Letaknya yang berada di tengah Kota Ponorogo tidak membuat Desa Siman kehilangan identitas budaya, sekaligus tetap mampu mengikuti perkembangan zaman.

Secara administratif, Desa Siman terbagi ke dalam dua kedukuhan, yakni Dukuh Krajan dan Dukuh Pabrik. Keduanya menggambarkan struktur sosial yang terbentuk turun-temurun dan menjadi fondasi kehidupan warga setempat. Desa ini memiliki 6 Rukun Warga (RW) dan 18 Rukun Tetangga (RT). Masing-masing berperan dalam menjaga keteraturan dan stabilitas sosial. Dengan luas wilayah sekitar 113 hektare, Desa Siman memiliki ruang yang cukup untuk pengembangan berbagai sektor penting, termasuk pertanian, permukiman, serta fasilitas umum.

Mayoritas penduduk Desa Siman bekerja pada sektor pertanian. Luas sektor pertanian di Desa Siman sekitar 63 hektare. Selain bertani, warga Siman juga mengembangkan usaha-usaha mandiri. Salah satunya adalah “Ayam Panggang Kampung Bu Sirom”, yang menunjukkan kemampuan warga dalam melihat peluang usaha mengingat posisi desa yang berada di pusat Kota Ponorogo. Ada pula pengerajin reyog Pak Karmin yang tidak hanya membuka lapangan pekerjaan, tetapi juga turut melestarikan budaya Reyog Ponorogo. Usaha ini memberi ruang bagi generasi muda untuk belajar membuat perangkat reyog, serta menjadi peluang positif di tengah semakin terbatasnya lapangan pekerjaan.

Toponimi Desa Siman

Asal-usul nama Desa Siman berasal dari cerita turun-temurun yang disampaikan para sesepuh. Wahyudi (42), Carik Desa Siman yang menjadi narasumber dalam tulisan ini mengisahkan bahwa dahulu di daerah bernama "Gorang-Gareng" berdiri sebuah paguron yang disegani. Paguron tersebut diasuh oleh Warok legendaris, Ki Singolodro. Perguruan itu melahirkan banyak murid berilmu tinggi, di antaranya Ki Suromenggolo, Ki Gunoseco, dan Ki Suro Gentho. Sosok-sosok tersebut yang kelak berperan dalam dinamika pembentukan wilayah Ponorogo.

Foto Bersama Narasumber Carik Desa Siman


Suatu ketika, Ki Singolodro menggelar pendadaran atau uji kesaktian untuk menilai perkembangan ilmu para muridnya. Dalam ujian itu, Ki Suromenggolo tampil paling unggul. Maka, ia dianugerahi gelar "Warok" dan dipercaya memimpin wilayah Wono Kerto. Wilayah tersebut kini dikenal sebagai Kertosari. Keputusan itu ternyata tidak diterima dengan ikhlas oleh Ki Gunoseco. Karena merasa tersingkir, ia meninggalkan paguron tanpa pamit dan berguru kepada tokoh sakti lain, yakni Ki Singobowo yang tinggal di kaki Gunung Wilis.

Di bawah bimbingan guru baru, Ki Gunoseco menjalani laku spiritual dan dididik menjadi sosok "Simo" atau harimau tiruan sebagai simbol kekuatan. Dengan wujud barunya itu, ia berniat menantang Ki Suromenggolo. Namun dalam perjalanan, ia terkena kutukan dari jimat sakti Luyung Bang, yang merupakan hadiah dari Ki Sunan Lawu, sehingga tak mampu kembali ke wujud manusia. Ketika mengetahui hal itu, Ki Singobowo menyarankannya untuk bertapa ke arah selatan.

Dalam pengembaraannya, Ki Gunoseco tiba di kawasan berbatu yang kelak dikenal sebagai Sewatu, “seribu batu”. Di tempat itulah ia bertapa selama bertahun-tahun, menjalani laku prihatin demi menghapus kutukan. Usahanya membuahkan hasil: ia akhirnya kembali ke wujud manusia. Atas ketekunan dan kesetiaannya menjalani laku spiritual, Ki Singobowo mewisudanya sebagai Warok dan menetapkannya sebagai penjaga wilayah tempat ia bertapa.

Daerah itu kemudian dinamai Simo-an, merujuk pada tempat tinggal seorang Simo. Seiring waktu, penyebutannya berubah menjadi Siman, nama yang kini resmi digunakan sebagai nama desa di Kecamatan Siman, Kabupaten Ponorogo.

Makam Mbah Guno Seco

Folklor Desa Siman

Sebagai sebuah desa dengan sejarah panjang merentang ke belakang, Desa Siman memiliki berbagai folklor yang menarik untuk diketahui. Folklor-folklor tersebut berupa legenda, mitos, dan berbagai tradisi lokal yang terus diwariskan dari waktu ke waktu.

Legenda Mbah Dowo

Sebelum dikenal dengan nama Desa Siman, wilayah ini diceritakan sebagai kawasan tak berpenghuni yang masih berupa hutan. Berdasarkan penuturan lisan masyarakat yang dihimpun melalui Wahyudi (42), Carik Desa Siman, sosok pertama yang membuka atau membabat wilayah ini adalah Mbah Dowo. Ia bersama keluarganya disebut sebagai pihak awal yang menetap dan membangun kehidupan di kawasan yang kini berkembang menjadi Desa Siman.

Menurut Wahyudi, keberadaan Mbah Dowo menjadi fondasi penting dalam dinamika sejarah desa, jauh sebelum kemunculan tokoh warok legendaris Ki Guno Seco. Ki Guno Seco sendiri kemudian lebih banyak mewarnai kisah-kisah lokal. Dalam perjalanan sejarah desa, Mbah Dowo menempati posisi sentral sebagai pelopor permukiman dan kehidupan awal masyarakat di wilayah tersebut. Oleh karena itu, berdasarkan hasil wawancara dengan Wahyudi, nama Mbah Dowo layak ditempatkan sebagai bagian dari narasi sejarah dan tokoh legenda yang berperan dalam proses terbentuknya Desa Siman hingga berkembang seperti sekarang.

Makam Mbah Dowo dan Istrinya

Kisah Warok Guno Seco (sang harimau dari siman) dan Suminten Edan

Masih berdasarkan penuturan Wahyudi, Carik Desa Siman, kisah lain yang terkenal di wilayah ini berkaitan dengan sosok Warok Guno Seco. Ia dikenal sebagai salah satu warok tersohor di tlatah Ponorogo dan memiliki wilayah kekuasaan yang kini dikenal sebagai Desa Siman. Dalam cerita lisan masyarakat, Ki Guno Seco disebut memiliki kemampuan kanuragan yang melampaui rata-rata warok pada masanya.

Ki Guno Seco memiliki seorang putri semata wayang bernama Roro Suminten. Ia dikenal berparas cantik, bertutur lembut, serta menjunjung tinggi tata krama. Roro Suminten tumbuh dalam asuhan ayahnya yang arif dan bijaksana. Pada suatu masa, Kadipaten Trenggalek yang dipimpin Adipati Noto Kusumo dilanda maraknya aksi perampokan yang meresahkan rakyat. Untuk mengatasi keadaan tersebut, sang Adipati mengadakan sayembara bagi siapa pun yang mampu memberantas para begal.

Kabar sayembara itu sampai ke telinga Ki Guno Seco. Ia kemudian menerima tantangan tersebut. Berkat kesaktiannya, Ki Guno Seco berhasil menundukkan para perampok yang akhirnya berjanji tidak lagi mengganggu wilayah Kadipaten Trenggalek. Sebagai bentuk penghargaan, Adipati Noto Kusumo menawarkan kehormatan besar dengan menjodohkan putranya, Raden Mas Subroto, dengan Roro Suminten. Raden Subroto digambarkan sebagai bangsawan muda yang tampan, gagah, dan terpelajar. Tawaran itu diterima sebagai anugerah oleh Ki Guno Seco dan putrinya, sehingga persiapan pernikahan pun mulai dilakukan dengan mengundang para tetangga dan menyiapkan segala keperluan.

Namun, di luar dugaan, Raden Subroto diam-diam meninggalkan Kadipaten. Dalam pelariannya, ia bertemu Roro Warsiyani, putri Warok Suromenggolo, sahabat sekaligus teman seperguruan Ki Guno Seco. Keduanya saling jatuh cinta dan kemudian menikah secara sah dengan restu ayah Roro Warsiyani. Kabar tersebut membuat Ki Guno Seco terpukul dan diliputi kemarahan karena merasa kehormatan keluarganya telah diinjak-injak.

Dalam amarahnya, Ki Guno Seco mendatangi padepokan Warok Suromenggolo dan menantangnya berduel. Pertarungan sengit pun terjadi antara dua warok yang sama-sama memiliki kekuatan besar. Di tengah pertarungan, terdengar tawa lirih Roro Suminten yang menunjukkan kondisi batin yang kacau, gila, dan diliputi kesedihan. Menyadari keadaan putrinya, Ki Guno Seco menghentikan pertarungan dan memilih menyembuhkan Roro Suminten dengan ilmu sakti yang dimilikinya.

Di tengah konflik tersebut, akhirnya ditempuh jalan penyelesaian. Dengan hati yang telah dijernihkan serta restu dari Roro Warsiyani, Raden Subroto kemudian menerima Roro Suminten sebagai istri keduanya.

Makam Roro Suminten


Legenda Mbah Jonasi

Wahyudi, Carik Desa Siman, juga menuturkan kisah Syekh Ahmad Suyuti, sosok yang dikenal masyarakat setempat dengan sebutan Mbah Jonasi. Meski cerita ini tidak terlalu masyhur, perannya dinilai penting karena turut mewarnai dinamika sejarah Desa Siman. Dalam kisah tersebut, Desa Siman dan wilayah sekitarnya pernah dilanda wabah penyakit. Menghadapi kondisi itu, Ki Guno Seco meminta bantuan kepada pimpinan Keraton Solo untuk mengatasi wabah yang tengah merebak.

Menanggapi permintaan tersebut, pimpinan Keraton Solo mengutus Syekh Ahmad Suyuti atau Mbah Jonasi ke Desa Siman. Setibanya di wilayah ini, Mbah Jonasi berupaya menyembuhkan wabah yang melanda. Berkat kesaktian yang dimilikinya, wabah penyakit tersebut dapat diatasi dalam waktu relatif singkat. Setelah menuntaskan tugasnya, Mbah Jonasi memutuskan menetap di Desa Siman hingga akhir hayatnya. Makamnya berada di Desa Siman, meski tidak berada dalam satu kompleks dengan makam para leluhur lainnya.

Mitos Desa Siman

Desa Siman memiliki beberapa mitos yang diturunkan dari generasi ke generasi. Mitos-mitos tersebut melambangkan rasa hormat terhadap nilai-nilai sakral dari berbagai tokoh dan peristiwa yang melingkupi sejarah desa.

Pantangan Memakai Nama Suminten

Di tengah kehidupan masyarakat Desa Siman, Ponorogo, hidup sebuah kepercayaan turun-temurun yang masih dijaga hingga kini. Warga meyakini bahwa nama “Suminten” tidak boleh digunakan sembarangan, terutama bagi perempuan, atau bagi laki-laki yang hendak menikahi perempuan bernama Suminten. Keyakinan ini bersumber dari kisah pilu sekaligus penuh keagungan hati seorang tokoh legenda desa, Roro Suminten.

Menurut penuturan Wahyudi, Carik Desa Siman, pantangan terhadap penggunaan nama Suminten bukanlah wujud ketakutan, melainkan bentuk penghormatan yang mendalam. Kisah Roro Suminten sendiri dikenal luas dan bahkan diangkat dalam pertunjukan ketoprak atau ludruk Jawa. Ia digambarkan sebagai sosok perempuan yang rela mengubur harapannya, menanggung luka batin, hingga kehilangan kewarasannya demi menjaga harga diri dan kehormatannya. Pada akhirnya, ia mampu menerima kenyataan pahit tersebut dengan jiwa besar dan keikhlasan.

Atas dasar kebesaran hati itulah, nama Suminten kemudian dianggap sakral oleh masyarakat Desa Siman. Warga khawatir penggunaan kembali nama tersebut dapat memunculkan hal-hal yang tidak diharapkan. Namun, pantangan ini tidak dimaknai sebagai ketakutan terhadap kutukan, melainkan sebagai bentuk penghormatan terhadap kisah Roro Suminten yang telah menjadi bagian dari dinamika kehidupan dan ingatan kolektif masyarakat Desa Siman.

Ikat Kepala Koak Jarak

Selain pantangan penggunaan nama Suminten, masyarakat Desa Siman juga memegang kepercayaan lain yang dianggap sakral, yakni larangan mengenakan ikat kepala koak jarak. Kepercayaan ini hidup dalam tradisi lisan para sesepuh dan diwariskan dari generasi ke generasi sebagai bagian dari identitas kultural Desa Siman.

Menurut penuturan Wahyudi, Carik Desa Siman yang memahami sejarah lokal, ikat kepala koak jarak memiliki makna tersendiri. Pada masa lalu, ikat kepala ini kerap dikenakan oleh Ki Guno Seco, baik saat tampil di hadapan masyarakat maupun ketika menghadapi musuh. Dalam kepercayaan setempat, penggunaan ikat kepala koak jarak oleh masyarakat umum dikhawatirkan dapat mendatangkan hal-hal yang tidak diinginkan. Pantangan tersebut tidak dimaknai sebagai larangan semata, melainkan sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Guno Seco yang identik dengan penggunaan ikat kepala koak jarak.

Tradisi

Desa Siman juga menyimpan beberapa tradisi yang masih dilakukan secara rutin dari tahun ke tahun. Tradisi tersebut menjadi penanda identitas, sekaligus momen perekat masyarakat setempat. Tradisi-tradisi itu berupa bedol pusaka dan ziarah ke makam para leluhur.

Bedol Pusoko

Setiap tahun, saat musim kemarau tiba, masyarakat Desa Siman menggelar kegiatan tahunan bersih desa yang bertepatan dengan momen bedol pusoko. Tradisi ini dimaknai sebagai upaya pembersihan batin sekaligus bentuk penghormatan kepada para leluhur, terutama kepada sosok sentral dalam sejarah desa, Ki Guno Seco. Ritual tersebut menjadi penanda kuat hubungan spiritual masyarakat dengan akar sejarah dan nilai-nilai yang diwariskan pendahulunya.

Salah satu rangkaian acara yang paling dinanti adalah kirab budaya, yakni sebuah prosesi sakral yang dilaksanakan pada malam hari di bulan Suro. Kirab dimulai dari Balai Desa Siman menuju Makam Umum Ki Guno Seco. Dalam suasana hening, langkah masyarakat diiringi alunan musik hadroh kuno dan lantunan selawat beraransemen Jawa, sementara lampu-lampu jalan sengaja dipadamkan. Dalam prosesi ini, masyarakat membawa tiga pusaka peninggalan Ki Guno Seco, yakni Songsong Kiai Suryo Sumunar, Tombak Kiai Wijoyo Kusumo, dan Kolor Sakti Eyang Guno Seco.

Ketiga pusaka tersebut diyakini bukan sekadar benda biasa , melainkan sarat makna simbolik. Songsong Kiai Suryo Sumunar, berupa payung pusaka yang berkilau. Pusaka tersebut melambangkan kebesaran dan perlindungan seorang pemimpin. Selain sebagai pelindung secara fisik, songsong ini dimaknai sebagai simbol peneduh bagi masyarakat dengan filosofi bahwa pemimpin harus memberi terang layaknya sinar matahari pagi. Sementara itu, Tombak Kiai Wijoyo Kusumo melambangkan keberanian dan ketegasan. Tombak ini dipercaya digunakan Ki Guno Seco dalam menumpas kejahatan dan menegakkan keadilan, sekaligus menjadi simbol arah dan keteguhan hati, bukan semata alat kekerasan.

Pusaka ketiga, Kolor Sakti Eyang Guno Seco. Pusaka ini menjadi yang paling unik. Ikat pinggang pusaka ini diyakini menyimpan kekuatan spiritual dan melambangkan pengendalian diri serta kekuatan batin. Nilai tersebut menjadi fondasi utama ajaran warok sejati, bahwa kekuatan sejati tidak hanya terletak pada raga, tetapi juga pada kemampuan menahan amarah, nafsu, dan kesombongan.

Bagi masyarakat Desa Siman, kirab budaya bukan sekadar ritual tahunan. Tradisi ini berfungsi sebagai penjaga identitas dan ingatan kolektif, sekaligus jembatan antara nilai-nilai masa lalu dan kehidupan masa kini. Melalui kirab budaya, ajaran Ki Guno Seco tentang kepemimpinan yang bijak, perlindungan terhadap yang lemah, serta keseimbangan batin terus dihidupkan dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Ziarah Makam Leluhur

Selain rangkaian bedol pusoko, tradisi bersih Desa Siman juga diisi dengan kegiatan ziarah ke makam para leluhur yang berada di Pemakaman Umum Guno Seco, dengan titik utama di makam Ki Guno Seco. Tokoh ini dihormati sebagai figur sentral yang berperan penting dalam awal terbentuknya Desa Siman. Ziarah dilakukan dengan penuh khidmat dan kekhusukan, diikuti oleh warga yang datang untuk mendoakan para leluhur dengan bacaan tahlil.

Tradisi Ziarah Makam


Bagi masyarakat Desa Siman, ziarah makam tidak semata dimaknai sebagai aktivitas spiritual, melainkan juga sebagai ruang refleksi untuk mengingat dan meneladani nilai-nilai kehidupan yang diwariskan para leluhur. Menurut penuturan Wahyudi, Carik Desa Siman, tradisi ini mengajarkan pentingnya rasa hormat kepada leluhur, kesadaran akan akar sejarah, serta ungkapan syukur atas nilai dan tanah yang telah diwariskan. Selain mendoakan Ki Guno Seco, warga juga memanjatkan doa bagi leluhur lainnya, seperti Roro Suminten dan Mbah Dowo, sebagai upaya menjaga hubungan batin dengan para pendahulu sekaligus memperkokoh identitas budaya masyarakat Desa Siman.

Editor: R. Agnibayaa
Ilustrasi oleh Yoga Prismanata melalui Gemini





Lebih baru Lebih lama

نموذج الاتصال