Racikan Kopi Ranggawarsita: Dari Tegalsari Merekam Zaman hingga Hari Ini



Oleh: Muhammad Barir
Dosen Fakultas Adab dan Dakwah
UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo


Judul Buku  : Racikan Kopi Ranggawarsita: Dari Tegalsari Merekam Zaman hingga Hari Ini
Penulis Buku : Wirastho
Kota : Jombang
Terbit : Februari 2026
Halaman : i-ix, 1-206
ISBN : 978-634-7295-31-6
Penerbit : Boenga Ketjil


Melalui lensa sejarah Kota Ponorogo, Wirastho berhasil merangkai sebuah tulisan yang otentik. Buah penanya tumbuh dari konteks tradisi lokal khas Tegalsari, lalu mengeksposnya secara diam-diam ke dalam kemasan cerita yang kaya dan bermakna.

Ia tidak sekedar menyajikan rangkaian frasa alfabetis di hadapan para pembaca, namun benar-benar menarik kerah mereka untuk “dipaksa” masuk menerobos ruang dimensi Tegalsari abad ke-19, serta merasakan atmosfer dan hiruk-pikuknya. Pembaca dipaksa melihat apa yang Wirastho lihat dan merasakan apa yang Wirastho rasa.

Bayang-bayang penulis yang merupakan seniman lukis menjadi rona tersendiri di buku ini. Ia berhasil melukiskan sosok Bagus Burhan atau Ranggawarsita dengan detail, sekaligus mengisi celah-celah perjalanan hidupnya dari Surakarta menuju Pesantren Tegalsari. Dari luar buku ini seperti novel sejarah, namun bagi pembaca yang sudah hampir purna menuntaskan sepertiga buku ini akan mendapatinya seperti buku suluk atau perjalanan hikmah dari seseorang guru yang berusaha mengajarkan laku sepiritual kepada murid-muridnya.

Dalam buku ini, pembaca akan melihat ada warna Pramoedya Ananta Toer dan sekaligus melihat warna Ibnu Athaillah as-Sakandari (penulis Al-Hikam). Segi yang membedakan Wirastho dengan Pram adalah bahwa ia tidak mengambil plot Batavia atau Soerabaja, namun ia mengambil plot Ponorogo. Ia juga tidak sedang bercerita tentang kisah manis pahitnya asmara dua insan manusia, namun ia sedang berkisah tentang ikatan rasa antara hamba dengan Tuhannya. Tentu melalui simbol-simbol laku kehidupan yang serupa pahitnya biji kopi berpadu manisnya makna di baliknya.

Berbeda dengan Ibnu Athaillah yang menjadikan kata-kata hikmah sebagai kekuatan bukunya, Wirastho lebih cenderung sedang mencoba membangun rasa para pembaca melalui simbol-simbol yang sederhana. Misalnya, dengan mengangkat fenomena terkait siklus manusia menjalani hidup yang serupa dengan siklus biji kopi. Mulai dari makna benih, menanam, merawat, memangkas dahan (miwili), hingga mengendapkan ampas kopi serupa menjernihkan pikiran untuk kemudian menyeruput pahitnya kopi yang khas. Siklus tersebut serupa dengan peristiwa lahirnya Bagus Burhan sebagai manusia: tumbuh, belajar, bergulat dengan ambisi, ditempa, hingga ia menjadi dirinya sebagai seorang Ranggawarsita, “Sang Pujangga Terakhir Tanah Jawa”. Jika meminjam istilah John B. Thompson, buku Wirastho hampir dipastikan menyertakan “imajinasi-imajinasi sosial” seperti itu dalam bukunya.

Dalam buku ini, Wirastho tidak sekadar mengais mozaik-mozaik adagium monumental khas Ranggawarsita, namun merangkainya ke dalam cerita yang penuh makna. Satu per satu ia susun dengan menjadikan “kopi” sebagai media budaya serta mengelaborasikannya dengan  Serat Kalatidha dan Sabda Djati. Hal yang menjadikan Ranggawarsita sebagai “cultural broker-nya” (meminjam istilah Clifford Geertz dalam The Javanese Kijaji).

Wirastho berhasil membedah jalan sunyi (suwung) seorang Bagus Burhan kecil yang berproses menjadi seorang "Penanda Zaman". Mulai dari kehidupan kampung halaman dan kedua orang tuanya yang erat dengan filosofi hidup; perjalanan merasakan langsung sentuhan Kiai Kasan Besari yang menjadikannya “Salik” seorang sufi; dan akhirnya berubah menjadi sosok yang menyuarakan letupan-letupan kritik atas realitas zaman edan kuasa kolonial dan politik keraton yang menyengsarakan rakyat. Kisah ini ditutup dengan kembalinya Ranggawarsita kepada jalan sunyi hingga akhirnya mangkat dengan damai menuju Tuhannya.

Alur cerita buku ini hadir dari perpaduan racikan wiraga, wirama, wirasa yang kemudian membentuk sosok Wira Sang Peracik kopi misterius. Ia selalu membuka pintu rumahnya untuk setiap tamu yang hendak singgah sejenak mendengarkan kisah dan merasakan berbagai rasa di balik pahitnya biji kopi. Ia telah menuntaskan seluruh tangkapan inderanya, menjadikannya padu dan harmoni untuk kemudian menjadi wadah yang menampung seluruh rasa yang selama ini berputar di dalam hatinya. 
Lebih baru Lebih lama

نموذج الاتصال