Oleh: Isnatin Ulfah
Dosen Pascasarjana UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo
Penulis Isu-isu Perempuan dan Gender
Patriarkisme memperlihatkan wajah paradoksalnya: pisau bermata dua. Selama ini ia memang banyak dikritik karena menindas perempuan, meminggirkan suara mereka, dan menempatkan laki-laki sebagai pusat kuasa sosial. Akan tetapi, pada saat yang sama, patriarkisme juga menciptakan standar maskulinitas yang keras dan sering kali tidak manusiawi bagi laki-laki sendiri.
Beberapa waktu terakhir, ruang-ruang berita dan media sosial dipenuhi kabar tentang laki-laki muda yang mengakhiri hidupnya sendiri. Ada yang melompat dari jembatan, melompat dari gedung kampus, dan ada yang ditemukan tak bernyawa dalam kesunyian yang mungkin sudah lama ia sembunyikan. Peristiwa-peristiwa itu datang nyaris berdekatan, menyisakan keterkejutan sekaligus pertanyaan yang tidak sederhana: mengapa banyak laki-laki memilih pergi dalam diam?
Kematian yang Sunyi, ada apa dengan Laki-Laki?
Respons publik pun terbelah. Sebagian masih melihat tragedi itu dengan kacamata lama patriarkisme: “laki-laki kok lemah”, “baru begitu saja menyerah”, atau “kurang iman dan kurang mental”. Kalimat-kalimat semacam itu terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya memperlihatkan bagaimana budaya patriarkis bekerja begitu dalam di tengah masyarakat. Laki-laki dianggap harus selalu kuat, tahan banting, dan mampu menanggung semua beban tanpa runtuh. Kesedihan mereka sering tidak dianggap serius, bahkan kerentanannya diperlakukan sebagai kegagalan menjadi laki-laki.
Namun di sisi lain, muncul pula suara-suara yang lebih empatik. Banyak orang mulai mengatakan bahwa laki-laki juga berhak bercerita, berhak merasa lelah, berhak menangis, dan berhak mencari pertolongan. Ada kesadaran baru bahwa menjadi laki-laki tidak berarti harus memendam luka sendirian, sebab di balik wajah yang tampak kuat bisa jadi ada kecemasan yang tidak pernah mendapat ruang untuk diucapkan. Di balik tuntutan menjadi kepala keluarga, pencari nafkah, pemimpin, dan simbol ketegaran, ada manusia yang mungkin sedang berjuang melawan rasa gagal, rasa malu, dan kesepian yang panjang.
Di titik inilah patriarkisme memperlihatkan wajah paradoksalnya: pisau bermata dua. Selama ini ia memang banyak dikritik karena menindas perempuan, meminggirkan suara mereka, dan menempatkan laki-laki sebagai pusat kuasa sosial. Akan tetapi, pada saat yang sama, patriarkisme juga menciptakan standar maskulinitas yang keras dan sering kali tidak manusiawi bagi laki-laki sendiri. Laki-laki dipaksa menjadi sosok ideal sesuai selera budaya patriarkis: harus kuat, harus sukses, harus mampu memimpin, dan tidak boleh terlihat rapuh. Ketika mereka gagal memenuhi standar itu, masyarakat tidak jarang menghakimi mereka sebagai belum laki-laki seutuhnya.
Tulisan ini berangkat dari kegelisahan akademik sekaligus kegelisahan kemanusiaan: bahwa patriarkisme sesungguhnya tidak hanya melahirkan kekerasan terhadap perempuan, tetapi juga dapat menjadi sumber kekerasan simbolik, psikologis, bahkan fisik terhadap laki-laki. Pada akhirnya, budaya yang melarang seseorang untuk menjadi manusia—untuk mengaku lelah, takut, gagal, dan terluka—adalah budaya yang perlahan-lahan sedang mencabut kemanusiaan itu sendiri.
RW Connell: Maskulinitas sebagai Beban Sosial
Selama ini patriarkisme lebih sering dibicarakan sebagai sistem sosial yang melahirkan ketidakadilan terhadap perempuan. Ia menjadikan perempuan sebagai “liyan”: ditempatkan di pinggir kehidupan sosial, dianggap kurang penting, dibatasi ruang geraknya, bahkan kerap menjadi korban kekerasan dan stigma. Dalam banyak kajian feminisme, patriarki dipahami sebagai struktur kuasa yang menempatkan laki-laki sebagai pusat otoritas dan superioritas. Pembacaan ini tentu penting, sebab sejarah panjang kebudayaan manusia memang memperlihatkan bagaimana perempuan berkali-kali diposisikan sebagai pihak yang harus tunduk. Namun di balik wajah dominatifnya terhadap perempuan, patriarkisme sesungguhnya menyimpan paradoks yang jarang dibicarakan: ia juga melukai laki-laki, bahkan sejak mereka diajarkan arti menjadi “lelaki sejati”.
Patriarkisme memberi laki-laki keistimewaan sosial, tetapi pada saat yang sama menciptakan beban identitas yang nyaris mustahil dipikul secara manusiawi. Laki-laki tidak diberi kesempatan untuk sekadar menjadi manusia biasa. Mereka harus kuat, harus sukses, harus mampu memimpin, harus berani, harus menang, harus menjadi pelindung dan pencari nafkah utama. Dalam konstruksi budaya patriarkis, kelemahan bukan sekadar kekurangan, melainkan aib. Tangisan dianggap memalukan dan ketidakmampuan ekonomi bahkan seksual sering diterjemahkan sebagai hilangnya harga diri seorang laki-laki. Apa yang disebut sebagai “maskulinitas ideal” sesungguhnya tidak jarang berubah menjadi penjara sunyi yang memaksa laki-laki terus berpura-pura kuat, bahkan ketika dirinya sedang runtuh dari dalam.
Dalam perspektif feminisme kontemporer dan teori maskulinitas hegemonik R. W. Connell, patriarki bukan hanya sistem dominasi terhadap perempuan, tetapi juga mekanisme sosial yang mendisiplinkan laki-laki agar tunduk pada standar maskulinitas tertentu. Laki-laki yang gagal memenuhi standar itu akan dihukum secara sosial: dicap lemah, tidak berguna, tidak jantan, bahkan dianggap gagal menjadi laki-laki. Seorang suami yang kehilangan pekerjaan, seorang ayah yang tak mampu memenuhi kebutuhan keluarga, atau seorang pemuda yang kalah bersaing dalam pendidikan dan karier sering kali tidak hanya menghadapi kesulitan hidup, tetapi juga penghinaan simbolik yang menghancurkan martabatnya perlahan-lahan. Dalam bahasa Pierre Bourdieu, inilah kekerasan simbolik: kekerasan yang bekerja bukan melalui pukulan, melainkan melalui stigma, ekspektasi, rasa malu, dan tekanan budaya yang terus mengikis kemanusiaan seseorang.
Yang lebih tragis, patriarkisme sering melarang laki-laki untuk mengakui luka mereka sendiri. Sejak kecil mereka diajarkan bahwa laki-laki tidak boleh mengeluh, tidak boleh takut, tidak boleh menyerah. Akibatnya, banyak laki-laki tumbuh tanpa bahasa untuk menjelaskan kesedihan dan kegagalannya. Mereka memendam kecemasan sendirian, menyembunyikan depresi di balik tawa, dan menutupi rasa rapuh dengan diam yang panjang. Pada titik tertentu, kesunyian itu bisa menjadi sangat berbahaya. Tidak sedikit laki-laki memilih menghancurkan dirinya sendiri karena merasa gagal memenuhi ekspektasi sosial yang dibebankan kepadanya, sementara ia juga malu untuk meminta pertolongan. Patriarki akhirnya tidak hanya menciptakan dominasi, tetapi juga kesepian eksistensial yang mematikan. Patriarkisme selama ini dipahami sebagai sistem yang menguntungkan laki-laki. Namun yang sering luput dibicarakan, sistem ini ternyata juga menuntut laki-laki membayar mahal identitas maskulinnya.
Memberi Ruang bagi Laki-Laki untuk Menjadi Manusia
Barangkali masalah terbesar patriarkisme bukan hanya karena ia menciptakan ketidakadilan, tetapi karena ia terlalu lama memaksa manusia menyangkal kemanusiaannya sendiri. Perempuan dipaksa tunduk, sementara laki-laki dipaksa kuat tanpa henti. Padahal menjadi manusia seharusnya berarti memiliki ruang untuk lemah, gagal, takut, dan terluka tanpa kehilangan martabatnya. Sebab dunia yang sehat bukan dunia yang melarang laki-laki menangis, melainkan dunia yang memungkinkan setiap manusia merasa aman untuk menjadi dirinya sendiri.
Karena itu, kritik terhadap patriarkisme sesungguhnya bukan semata perjuangan membela perempuan, melainkan juga usaha memulihkan kemanusiaan laki-laki. Feminisme, dalam pengertian yang paling mendasar, bukan gerakan untuk membenci laki-laki, tetapi kritik terhadap sistem sosial yang memaksa perempuan hidup dalam subordinasi dan memaksa laki-laki hidup di bawah tekanan maskulinitas yang tidak manusiawi. Membebaskan manusia dari patriarkisme berarti membuka ruang agar perempuan tidak lagi dipinggirkan, sekaligus memberi kesempatan kepada laki-laki untuk menjadi manusia yang utuh: boleh lemah, boleh gagal, boleh menangis, dan tetap layak dihormati tanpa harus terus-menerus membuktikan dirinya di hadapan budaya.
Tags
Perempuan dan Gender
