Oleh: Rangga Agnibaya
Dosen Pembina Teater Agniprana UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo
Pimred komunitaspintu.id
Di tengah budaya digital yang cenderung serba cepat, seni pertunjukan seperti pementasan teater menjadi penawar yang menjanjikan. Ia menghendaki kesabaran, kedisiplinan, dan kehadiran fisik yang utuh. Kesabaran dan kehadiran fisik yang kadang tereliminasi dalam praktik di dunia digital yang menghendaki “kesegeraan”, dan pada situasi tertentu mengedepankan “anonimitas”.
Siang itu, berangsung-angsur mini hall FTIK UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo yang berada di kampus 1 dipenuhi mahasiswa dan masyarakat umum. Beberapa di antara mereka menyempatkan diri untuk berfoto terlebih dulu di lokasi Photo Booth yang telah disediakan di bagian depan ruangan lantai 3. Selanjutnya, dengan dipandu oleh panitia yang bertugas, mereka memasuki sebuah ruangan tanpa penerangan untuk menuju tempat duduk. Suara lirih nan syahdu musik bernuansa Jawa mengalun melengkapi udara sejuk ruangan. Mereka menunggu dalam gelap yang ritmis.
Di sisi yang lain, di beberapa bagian ruangan terlihat sekelompok mahasiswa sibuk dengan tugasnya masing-masing. Ada yang berhadapan dengan alat kontrol pencahayaan; menghafalkan dan mengelompokkan audio dengan tema yang berbeda-beda; dan ada pula yang sibuk membenahi beberapa properti yang dirasa kurang pas. Semuanya dilakukan dalam gelap ruangan. Dan di sebuah ruangan lain yang sedikit tersembunyi, sekelompok mahasiswa sibuk mendandani temannya dengan riasan dan memadu-padankannya dengan kostum yang tepat. Semuanya dilakukan dengan khidmat: antara fokus dan perasaan tegang. Siang itu, mereka siap mementaskan sebuah pertunjukan teater dengan lakon “Kebo Nyusu Gudel”. Mereka adalah mahasiswa Tadris Bahasa Indonesia UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo yang tergabung dalam Teater Agniprana II.
Ketika Master of Ceremony (MC) selesai memberikan imbauan-imbauan dan menjelaskan sedikit tentang lakon yang dipentaskan, perlahan suara laki-laki menembangkan kidung Jawa terdengar dengan diiring pendar cahaya lampu panggung yang perlahan-lahan semakin terang. Selanjutnya, adegan demi adegan tersajikan dengan runut. Itulah momen di mana sebuah teks naskah drama yang telah disiapkan selama berbulan-bulan hidup di atas panggung. Momen ketika cerita tentang pengorbanan, kerja keras, dan komitmen terbayar lunas di hadapan ratusan penonton yang menyaksikan. Ratusan penonton yang pada satu momen tertentu tertegun oleh adegan yang mengajak mereka berkontemplasi, dan di momen yang lain terbahak-bahak karena adegan yang menggelitik.
Apa yang tersaji di atas panggung, dan juga apa yang diberikan oleh Teater Agniprana II secara keseluruhan siang itu, bermuara pada satu refleksi mendalam: di tengah budaya digital yang cenderung serba cepat, seni pertunjukan seperti pementasan teater menjadi penawar yang menjanjikan. Ia menghendaki kesabaran, kedisiplinan, dan kehadiran fisik yang utuh. Kesabaran dan kehadiran fisik yang kadang tereliminasi dalam praktik di dunia digital yang menghendaki “kesegeraan”, dan pada situasi tertentu mengedepankan “anonimitas”.
Secara akademis, laku kebudayaan yang diproduksi oleh Teater Agniprana II siang itu dapat dipandang sebagai usaha mengimplementasikan pandangan akademis: keterikatan antara teori dan praktik. Teater Agniprana II sendiri merupakan gabungan mahasiswa Tadris Bahasa Indonesia yang mengambil mata kuliah Apresiasi Drama. Maka, apa yang disajikan siang itu merupakan usaha untuk mempraktikkan teori-teori tentang drama yang di dapat di ruang kelas. Dalam tataran ini, teori-teori tentang drama tidak berhenti menjadi kumpulan definisi dan kategori yang dihafalkan di dalam pikiran. Ia dipraktikkan, dihidupkan, dan dihayati sebagai bagian perilaku berbudaya.
Jika kita berkaca pada apa yang disuarakan WS rendra dalam puisinya yang berjudul “Sajak Sebatang Lisong”, maka pementasan yang diselenggarakan pada tanggal 12 Juni selepas sholat Jumat tersebut dapat dibaca sebagai usaha untuk menjadikan kesenian sebagai wahana untuk memahami apa yang terjadi di sekitar kita. Kesenian tidak berdiri angkuh di menara gading: terpisah dari masalah kehidupan. Dalam “Sajak Sebatang Lisong”, Rendra mengemukakan pertanyaan retoris dengan sinis: Apakah artinya kesenian bila terpisah dari derita lingkungan // apakah artinya berpikir bila terpisah dari masalah kehidupan. Pertanyaan dari Rendra tersebut dijawab oleh Teater Agniprana dengan menghidupkan naskah “Kebo Nyusu Gudel”. Dengan demikian, sebuah karya sastra menemukan bentuk sosialnya ketika dipertunjukkan. Pementasan yang dipersiapkan selama empat bulan tersebut menjadi peristiwa budaya yang mempertemukan pemain, tim produksi, penonton, ruangan, suara, dan tubuh.
"Kebo Nyusu Gudel" merupakan naskah drama karangan Dheny Jatmiko, sastrawan Jawa Timur asal Tulungagung. Naskah tersebut dipenuhi dengan teks-teks sosial yang menjadi gambaran sosial dan psikologi masyarakat kita, mulai dari hubungan antara orang tua dan anak; laku kritik terhadap penguasa; perilaku megalomaniak; hingga perebutan makna tentang arti kebudayaan adiluhung. Anasir-anasir tersebut dibungkus dalam sebuah konflik keluarga yang bernuansa keseharian. Maka, tidak mengherankan jika naskah tersebut menjadi salah satu nominator sebagai karya terbaik dalam lomba penulisan naskah drama remaja yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jawa Timur pada tahun 2006. Sebagai catatan, meski ditulis dua puluh tahun yang lalu, namun isu dan permasalahan yang menggerakkan alur cerita dalam lakon tersebut masih relevan dengan kondisi saat ini.
Pementasan Teater Agniprana II tidak bisa hanya dipandang sebagai produk akhir dari sebuah mata kuliah. Pementasan tersebut dapat juga ditafsirkan sebagai ikhtiar untuk menepis anggapan bahwa 'Kebudayaan' hanya sebatas slogan. Slogan yang terlihat dan terdengar seksi yang menempel pada cetak biru (blueprint) sebuah komunitas, misalnya. Dalam pementasan berdurasi lebih dari 30 menit tersebut “kebudayaan” menjelma menjadi kata kerja, alih-alih sebagai objek semata. Artinya, Teater Agniprana II dan lakon “Kebo Nyusu Gudel” yang ditampilkannya merupakan sebuah praktik kebudayaan. Dari sisi yang lain, maknanya dapat berarti bahwa mahasiswa Tadris bahasa Indonesia yang tergabung dalam Teater Agniprana II tidak sekadar memahami atau mempelajari kebudayaan, melainkan juga memproduksi kebudyaaan. Mereka menjadi subjek yang aktif “mencipta”, sekaligus menafsir sebuah teks kebudayaan. Mereka seolah menolak anggapan bahwa “kebudayaan” semata hanya sebuah slogan pemanis.
Pertanyaan yang mengemuka kemudian adalah: apa urgensi dari pertunjukan-pertunjukan seni semacam itu dalam perspektif pendidikan di perguruan tinggi? Pertanyaan semacam ini tentu penting untuk dijawab. Secara jujur dapat dikatakan bahwa pementasan teater seperti yang dilakukan oleh Teater Agniprana II tidak berarti dalam rangka mencetak aktor-aktor hebat atau tim produksi teater yang andal dalam perannya masing-masing. Faktanya, mereka yang tergabung dalam Teater Agniprana II berbekal pengetahuan dan keterampilan berteater yang nyaris dari nol. Mereka menjalani proses produksi sambil terbata-bata, tersandung-sandung, dan tergagap, namun diiringi dengan keinginan untuk belajar yang besar. Apa yang mereka sajikan siang itu merupakan usaha terbaik mereka dengan segala kelebihan dan kekurangannya.
Pementasan semacam ini dalam lingkungan kampus lebih ditujukan untuk membentuk manusia-manusia yang memiliki kepekaan, kreativitas, daya reflektif, dan kemampuan bekerjasama. Jika suatu saat dari pementasan tersebut muncul aktor-aktor dan tim produksi teater yang mumpuni, itu adalah bonus. Kampus memiliki tanggung jawab besar untuk membentuk manusia yang seutuhnya, salah satunya melalui praktik berkesenian. Di tengah dunia pendidikan yang didominasi pencapaian kuantitatif, standarisasi melalui akreditasi, dan berbagai indikator kinerja, seni pertunjukan mengingatkan bahwa perguruan tinggi juga memiliki tugas membentuk manusia yang utuh. Melalui pementasan "Kebo Nyusu Gudel", mahasiswa Tadris Bahasa Indonesia UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo melalui Teater Agniprana II tidak sekadar memainkan drama, tetapi sedang mempraktikkan pendidikan, belajar menjadi manusia yang lebih peka terhadap kehidupan, sekaligus merawat kebudayaan.
Ora nguri-uri kabudayan, bakal kelangan jati dhiri. Sudikah kita?
Tags
Seni