"Tidak ada revolusi besar dalam sejarah modern tanpa intelektual; sebaliknya, tidak ada gerakan kontra-revolusi besar tanpa intelektual."— Edward Said
Setiap tahunnya, di dunia pendidikan, kita seperti selalu merayakan panen raya ijazah, tapi entah mengapa lumbung gagasan bangsa ini tetap saja terasa sunyi. Ratusan ribu sarjana diproduksi tiap tahun, namun gerak maju masyarakat seringkali justru malah stagnan. Bahkan, baru-baru ini represi terhadap ruang diskusi masih saja terjadi. Mengapa? Jangan-jangan sistem pendidikan kita hanya sedang mencetak fungsionaris yang pandai memoles diri di depan cermin karier, atau sistem tata negara kita sedang kita didominasi kaum intelektual semu yang tidak sadar pentingnya kesadaran sejarah. Edward Said, seorang kritikus kenamaan yang juga pakar dalam bidang pos-kolonial, dalam bukunya Representation of the Intellectual, menyentil kita dengan keras tentang fenomena pseudo-intellectual (intelektual semu): apakah kita ini aktor perubahan, atau sekadar "vegetable-like"?
Jerat Mentalitas
Mari kita bicara terbuka soal dunia pendidikan tinggi kita. Ada perbedaan kelas yang sering kita campur aduk: sarjana, ilmuwan, cendekiawan, dan intelektual. Sarjana itu gelar formal. Ilmuwan itu profesional di bidangnya, sementara cendekiawan sudah melibatkan etik. Tapi intelektual? Ini level "naik kelas" yang melibatkan sikap kritis, reflektif, dan transformatif.
Masalahnya, banyak dari kita yang terjebak menjadi "mentalitas sayuran”; disebut vegetable-like oleh Said dalam bukunya Peran Intelektual terbitan Yayasan Pustaka Obor Indonesia (1994), buku terjemahan dari buku terkenalnya sebagaimana kita singgung di awal—istilah yang mengusik dan satire. Kita pasif menyerap informasi paket ideologis tanpa filter, persis sayuran yang pasrah menyerap bumbu saat dimasak. Di ruang-ruang kelas, teori-teori besar diajarkan seperti memilih menu di warung makan (prasmanan teori). Mahasiswa merasa sudah jadi aktivis hanya karena paham dikit-dikit teorinya, tanpa ada transformasi diri apalagi aksi nyata. Kita belanja teori, tapi lupa mengendarainya. Akhirnya, intelektualitas cuma jadi kosmetik, bukan mesin penggerak emansipasi.
Profesionalisme atau nurani?
Kaum intelektual hari ini juga semakin dilematis saat berbenturan dengan urusan "perut". Said memberikan kritik pedas pada apa yang disebutnya profesionalisme. Di mata Said, profesionalisme adalah sikap yang menganggap pekerjaan intelektual melulu soal mencari nafkah. Satu mata melihat jam kerja, satu lagi melihat notifikasi slip gaji. Akibatnya? Kita jadi penakut. Kita cenderung menyensor diri sendiri (dreaming); men-diskon kebenaran, agar tetap disenangi otoritas dan tidak dikeluarkan dari circle-nya.
Inilah mengapa Said justru memuja sosok intelektual amatir. Bukan berarti tidak ahli, tapi "amatir" di sini adalah mereka yang digerakkan oleh ketulusan, hasrat akan kebenaran, dan rasa keadilan, bukan semata oleh imbalan materi. Mirip dengan konsep intelektual organiknya Antonio Gramsci (kita bahas kapan-kapan), intelektual amatir itu luwes, berani lintas batas, dan tidak takut menyuarakan kritik yang tidak populer. Sementara itu, kaum profesional seringkali bersembunyi di balik bahasa yang ruwet hanya untuk menjauhkan publik dari wacana penting agar mereka tetap memegang kuasa. Mereka takut "menggoyang perahu" karena taruhannya adalah posisi dan kenyamanan.
Mengambil jarak
Peran pokok intelektual itu berat: speak truth to power atau menyuarakan kebenaran pada penguasa. Dalam khazanah Islam, ini sejajar dengan afdolul jihad. Bukan perkara gampang karena risikonya bisa seperti Sokrates yang harus minum racun atau Yesus yang dikorbankan. Intelektual harus berani menjadi "lalat" (gadfly)—seperti julukan Sokrates di Athena—yang terus-menerus mengganggu, menyengat kemapanan, dan memaksa orang untuk berpikir ulang.
Seorang intelektual harus berpihak pada yang tertindas, mewakili mereka yang suaranya tidak pernah sampai ke ruang publik. Ia harus menjadi eksil (terasing), baik secara fisik maupun metaforis. Dengan mengambil jarak dari pusat kekuasaan, ia bisa melihat realitas dengan lebih jernih dan objektif. Jika terlalu nempel dengan penguasa, kritik akan berubah jadi basa-basi. Intelektual sejati bukan fungsionaris organisasi; ia adalah penjaga standar moral yang bahkan harus berani mengkritik tradisi dan dirinya sendiri jika memang ada yang salah.
Refleksi
Pada akhirnya,
intelektualitas bukan hanya soal seberapa banyak buku yang kita telusuri, seberapa
sering diskusi, tetapi juga seberapa besar keberanian yang kita punya untuk
tidak diam saat melihat ketidakadilan. Menjadi "amatir" yang merdeka
jauh lebih mulia daripada menjadi "profesional" yang lidahnya kelu
karena terikat sistem.
Namun, tanpa
ruang untuk bernapas dan refleksi, setiap peristiwa, emosi, dan relasi melebur
menjadi satu—menjadi kerumitan yang melelahkan dan sulit dipahami. Kita
membutuhkan spasi dan jeda untuk memisahkan setiap pengalaman, agar makna
kehidupan dapat terbaca dan dipahami dengan lebih jelas.
Kita tidak boleh menormalisasi situasi buruk terjadi begitu saja dengan dalih logika mistika. Situasi masyarakat adalah hasil pilihan-pilihan manusia, dan itu artinya, masih bisa diubah jika para intelektualnya mau bangun dari "tidur nyenyak" kenyamanan mereka. Jadi, pilihannya ada di tangan kita: mau tetap pada mentalitas medioker, atau menghindarinya dengan penuh kesadaran.
"Peran kita adalah memperluas area diskusi, bukan menetapkan batasan untuk menyesuaikan dengan otoritas yang berlaku."— Edward Said
Said, Edward W. Peran Intelektual. Diterjemahkan oleh Zubaidi Basri, Yayasan Pustaka Obor Indonesia, 1994.
Said, Edward W. Representations of the Intellectual. New York: Vintage Books, 1994.
