Membaca Ulang Agensi Jeng Yah dalam Gadis Kretek: Perspektif Simone de Beauvoir



Oleh: Shinta Erisma
Mahasiswa Tadris Bahasa Indonesia UIN Ponorogo
Peserta Kelas Kritk Sastra Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) 2026


Dalam situasi politik yang kacau, perempuan kerap menanggung akibat dari kesalahan dan keputusan laki-laki di sekitar mereka, bukan dari pilihan mereka sendiri.

Manusia akan terus tumbuh, berubah dan memandang dunia dengan cara yang berbeda seiring bertambahnya usia. Bahkan karena itu, cara kita memaknai sebuah cerita akan terasa seperti versi yang berbeda. Ada pertanyaan yang tidak pernah penulis ajukan sebelumnya, dan muncul ketika membaca ulang Novel Gadis Kretek karya Ratih Kumala. Apakah novel ini benar-benar berhasil memulihkan martabat Dasiyah, atau justru secara struktural mereproduksi logika yang sama. logika ketika perempuan hanya bisa "ditemukan" melalui mata dan perjalanan laki-laki? Pertanyaan ini bukan upaya untuk melemahkan kekuatan naratif novel yang memang kaya dan berlapis. Sebaliknya, pertanyaan ini adalah cara untuk membacanya dengan lebih jujur. Kritik sastra yang baik tidak berhenti pada perayaan, tetapi harus berani juga mempertanyakan objek yang dikaguminya, termasuk bertanya apakah sebuah novel tentang pembebasan perempuan itu sendiri luput dari jebakan yang hendak dikritiknya.

Representasi dan Posisi Perempuan dalam Pengisahan

Gadis Kretek diterbitkan pertama kali pada 2012. Sejak itu Gadis Kretek kerap dibaca sebagai narasi emansipasi tentang kisah seorang perempuan luar biasa bernama Dasiyah. Jeng Yah, panggilan Dasiyah, sendiri kontribusi intelektualnya dalam industri kretek dirampas oleh sistem patriarki dan kekacauan politik 1965. Pembacaan semacam ini tidak salah, tetapi terlalu cepat puas pada lapisan kedua. Ia menerima begitu saja bahwa representasi teks adalah pembelaan, padahal representasi bisa sekaligus memuliakan dan mengeksotisasi dalam waktu yang bersamaan. Yang perlu ditelaah lebih dalam bukan hanya apa yang dikisahkan novel ini tentang Dasiyah, melainkan bagaimana teks mengkonstruksi kehadiran dan ketidakhadiran perempuan itu, melalui pilihan sudut pandang, struktur pemfokusan narasi (focalization), dan siapa sesungguhnya yang memegang kendali atas jalannya kisah cerita.

Guna membedah lebih jauh dinamika ini, penulis meminjam konsep situasi (situation) dari Simone de Beauvoir, yang dirumuskan dalam karyanya The Second Sex (1949). Bagi de Beauvoir, perempuan tidak menjadi "Liyan" karena kodrat biologis, melainkan karena situasi konkret yang dikonstruksi oleh relasi sosial, ekonomi, dan budaya. Situasi itulah yang membatasi atau memungkinkan agensi seseorang. Maka pertanyaan yang relevan ketika membaca Gadis Kretek bukan hanya, apakah Dasiyah memiliki agensi? Melainkan, situasi apa yang dibangun teks untuk menempatkan Dasiyah dalam pengisahan? Selain itu, apakah tokoh-tokoh di dalamnya yang turut membentuk situasi yang membatasi Dasiyah bahkan dalam kisahnya sendiri?

Dimulai dari hal yang paling mendasar, yakni siapa yang menceritakan Dasiyah? Struktur alur novel ini bergerak melalui tiga bersaudara: Tegar, Karim, dan Lebas yang melakukan perjalanan mencari perempuan misterius yang sering disebut oleh Romo atau Ayah mereka, Soeraja, di ambang kematiannya. Ketiganya adalah laki-laki. Dasiyah, tokoh yang menjadi inti dari seluruh narasi, tidak pernah hadir sebagai subjek yang menceritakan dirinya sendiri secara langsung dan berdaulat. Ia hadir melalui kenangan Soeraja, kesaksian Rukayah, dan pencarian Lebas. Keberadaannya selalu dimediasi, atau selalu di-focalize melalui orang lain. Ini bukan cacat teknis penulisan, melainkan pilihan struktural yang memiliki konsekuensi ideologis. Dalam terminologi naratologi Gerard Genette, Dasiyah lebih sering sebagai objek focalization daripada ia menjadi focalizer atas pengalamannya sendiri. Artinya, perspektif yang membangun realitas teks adalah perspektif yang memandang Dasiyah dari luar, bukan perspektif Dasiyah yang memandang dunianya dari dalam.

Konsekuensi dari pilihan struktural ini terlihat nyata dalam adegan-adegan kunci. Ketika Dasiyah menolak foto wajahnya dipasang pada etiket (sampul) rokok dan mengusulkan ilustrasi seorang gadis berkebaya sebagai gantinya, pembaca diajak mengagumi otonomi Dasiyah atas citra tubuhnya. Memang adegan ini kuat secara simbolis, tetapi perlu diperhatikan, siapa yang menceritakan adegan ini kepada pembaca. Ratih Kumala mengizinkan pembaca masuk ke dalam kepala Dasiyah hanya sejauh yang diperlukan untuk memvalidasi karakter, bukan untuk mengeksplor kedalamannya sebagai subjek yang berpikir. Dasiyah tampil sebagai perempuan yang tegas, visioner, berdaya, namun ia tampil lebih sebagai figur daripada sebagai kesadaran. Perbedaan ini penting, karena figur bisa dikagumi dari kejauhan sedangkan kesadaran mengajak pembaca masuk ke dalam ruang-ruang yang lebih dalam dan lebih manusiawi.

Mistifikasi Perempuan dalam Gadis Kretek

Persoalan ini menjadi semakin kompleks ketika membaca plot bab "Ludah Manis". Saat Dasiyah menggunakan air ludahnya sebagai perekat kertas rokok, dan para konsumen laki-laki, termasuk Soeraja, meyakini hal ini memberi rasa manis yang tak tertandingi. Soeraja bahkan menyatakan: "Aku yakin aku sudah ketemu titisan Rara Mendut. Gadis cantik yang hidupnya untuk kretek, berludah manis." Hal ini dapat ditafsirkan bagaimana Dasiyah memanfaatkan mitos feminin untuk keuntungan ekonomi, mengubah objektivikasi menjadi instrumen kekuasaan.

Kemampuan intelektual Dasiyah dalam meracik saus adalah sebuah keahlian teknis yang ia bangun melalui kerja keras dan kepekaan sensorik sejak usia muda, namun telah direduksi oleh Soeraja menjadi mitos tubuh perempuan. Dasiyah bukan ahli meracik rasa tapi ia adalah "titisan Rara Mendut”. Yang menjadi pertanyaan adalah: apakah teks Gadis Kretek mengkritik cara pandang Soeraja ini, atau justru ikut merayakannya? Apakah narasinya mengambil jarak dari mistifikasi ini, sekaligus memberikan ironi dan menandai bahwa Soeraja sedang salah memahami Dasiyah, atau justru membiarkan mitos itu berjalan tanpa ditentang secara kritis sehingga pembaca pun terbawa untuk mengagumi "keajaiban" Dasiyah lebih dari mengakui kompetensinya? Dalam novel yang mengklaim meluruskan sejarah bisu perempuan, absennya ironi narator terhadap momen ini adalah sebuah celah yang perlu dipersoalkan.

Suara yang Tak Pernah Hadir Mandiri

Celah yang sama juga terlihat dalam cara novel ini menggambarkan tragedi 1965. Dasiyah dan Idroes Moeria ditangkap bukan karena mereka melakukan sesuatu yang salah secara politik, melainkan semata karena kedekatan mereka dengan Soeraja dan kebetulan warna kertas rokok mereka yang merah. Ratih Kumala sedang menunjukkan sesuatu yang penting di sini, yakni dalam situasi politik yang kacau, perempuan kerap menanggung akibat dari kesalahan dan keputusan laki-laki di sekitar mereka, bukan dari pilihan mereka sendiri. Akibatnya bagi Dasiyah sangat besar. Ia kehilangan perusahaan, kebebasannya, dan yang paling menyakitkan, ia kehilangan pengakuan atas kecerdasannya sendiri. Formula saus yang ia ciptakan dibocorkan Soeraja kepada Soedjagad, dan dari situlah kejayaan "Kretek Djagad Raja" dibangun. Sebuah bisnis industri kretek yang besar ternyata berdiri di atas sesuatu yang dicuri. Lebas menyadari ini dan mengungkapkannya dengan pahit: "Kita sudah makan barang haram, Mas. Barang curian... nyurinya bisa bikin keluarga kita kaya tujuh turunan."

Kalimat itu terasa seperti tamparan. Namun di baliknya, ada sesuatu yang perlu kita perhatikan. Pengakuan atas ketidakadilan yang dialami Dasiyah itu justru diucapkan oleh seorang laki-laki kepada laki-laki lain dalam perjalanan yang dijalankan oleh tiga laki-laki. Dasiyah tidak pernah bisa menceritakan kisahnya sendiri. Kisahnya baru terungkap karena Lebas dan saudara-saudaranya memilih untuk mencarinya. Di sinilah letak paradoks yang sulit diabaikan. Novel yang ingin mengembalikan suara perempuan, justru menyerahkan kendali atas proses pengembalian suara itu kepada laki-laki. Seperti yang mungkin akan dipertanyakan De Beauvoir, jika perempuan tetap menjadi pihak yang "ditemukan" bukan pihak yang berbicara untuk dirinya sendiri, apakah itu benar-benar sebuah pemulihan, atau sekadar bentuk pengambilalihan yang lebih halus?

Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan di atas bukan untuk menyimpulkan bahwa Gadis Kretek adalah novel yang kontraproduktif. Justru sebaliknya, novel yang dangkal tidak akan memunculkan pertanyaan-pertanyaan seperti ini. Kompleksitas novel Ratih Kumala terletak pada kenyataan bahwa ia menyimpan krisis antara apa yang ingin dikatakannya dan bagaimana struktur narasinya bekerja. Hal ini menjadi tanda bahwa teks ini hidup, serta menawarkan lebih dari satu lapisan untuk dibaca.

Satu hal yang juga perlu diakui adalah bahwa Ratih Kumala melakukan sesuatu yang bermakna secara historis. Ia memberi nama dan wajah kepada perempuan-perempuan yang selama ini nyaris tak terlihat dalam sejarah industri kretek Indonesia. Dalam catatan-catatan tentang industri kretek, termasuk yang didokumentasikan Mark Hanusz dalam Kretek: The Culture and Heritage of Indonesia's Clove Cigarettes (2000), perempuan hampir selalu hadir hanya sebagai buruh pelinting, tangan-tangan yang bekerja tanpa nama, tanpa wajah, tanpa kisah. Karakter Dasiyah dalam novel merupakan upaya untuk mengisi kekosongan itu. Selain itu, ia juga memberi nama kepada yang selama ini tak bernama, sekecil apapun langkah itu, adalah sebuah tindakan yang tidak bisa dianggap sepele.

Simbol luka semprong petromaks di dahi Soeraja membawa ke pertanyaan terakhir yang ingin penulis ajukan. Hantaman Dasiyah tepat setelah Soeraja mengucap ijab qabul dengan Purwanti kerap dibaca sebagai ledakan kemarahan atau kecemburuan yang meluap. Tetapi penulis membacanya sebagai sesuatu yang lebih dalam dari sekadar cemburu. Hal tersebut adalah tindakan penandaan. Secara harfiah, Dasiyah meninggalkan bekas (tanda) pada tubuh laki-laki yang mengkhianatinya. Soeraja menanggung tanda itu seumur hidup. Dalam situasi ketika perempuan kehilangan segalanya: nama, perusahaan, formula, dan kekasih. Tubuh Soeraja menjadi satu-satunya medium yang tersisa bagi Dasiyah untuk meninggalkan jejak.

Gadis Kretek adalah novel yang sangat menarik walaupun menyimpan kontradiksi. Kontradiksi itu justru mencerminkan betapa sulitnya perempuan untuk sungguh-sungguh keluar dari situasi yang disebut De Beauvoir sebagai “The Other” atau “Liyan” yang telah terbentuk selama berabad-abad. Bahkan sebuah teks yang bermaksud baik, yang ditulis dengan riset dan kepedulian, bisa tanpa sadar mereproduksi sebagian dari logika yang hendak dikritiknya. Menyadari hal ini bukan berarti membatalkan apresiasi terhadap novel ini. Sebaliknya, hal ini berarti kita membacanya dengan hormat yang sesungguhnya; hormat yang tidak malas; yang tidak berhenti pada kagum; yang berani juga bertanya lebih jauh. Tokoh Dasiyah layak mendapatkan pembaca yang tidak hanya bersedia menemukan kisahnya, tetapi juga untuk bertanya mengapa kisah itu harus ditemukan oleh orang lain terlebih dahulu.

Lebih baru Lebih lama

نموذج الاتصال