Oleh: Yoga Prismanata
Dosen Teknologi Pendidikan UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo
Digital & Visual Designer komunitaspintu.id
Manusia yang memiliki kesadaran seharusnya berani untuk menahan diri untuk tidak menggunakan AI secara membabi buta tanpa keterlibatan proses berpikir di dalamnya.
Sudah banyak sekali platform yang menawarkan fasilitas Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan. Sudah banyak juga platform yang membenamkan AI sebagai fitur unggulannya. Sudah banyak juga dari manusia modern, termasuk kita, yang lebih sering membuka AI untuk produktivitas dibandingkan menggunakan platform lainnya. Tidakkah muncul pertanyaan kritis mengenai fenomena tersebut: apakah AI ini bisa mematikan kekuatan berpikir manusia? Satu hal yang perlu dimengerti, berpikir merupakan pemantik kemajuan peradaban manusia. Segala bentuk ilmu pengetahuan dan teknologi yang manusia nikmati di era ini adalah hasil dari proses berpikir para ilmuwan.
AI dan Kebiasaan Baru dalam Mencipta
Kita bedah dulu keajaiban produk teknologi bernama AI ini, yang merupakan hasil pemikiran manusia juga. AI meniru kemampuan manusia dalam berpikir dan menghasilkan keputusan. Prinsip kerja utamanya sangat mirip sekali dengan otak manusia dalam mencari, menguraikan, mengelompokkan, dan menyimpulkan data atau informasi. Sistemnya memungkinkan untuk memperoleh hasil yang sangat cepat, karena menggunakan proses komputasi yang cepat dan akurat berbasis mesin komputer modern. Selain itu, keandalan AI adalah kemampuannya untuk belajar selayaknya manusia. Kemampuan tersebut menciptakan mekanisme untuk terus berkembang, serta semakin cerdas untuk mengerjakan tugas atau perintah yang lebih kompleks. Saat ini, AI tak lagi hanya terbatas membuat tulisan, melainkan sudah mampu membuat gambar dan bahkan video dengan sangat realistis.
Berkaca pada kondisi saat ini, AI sudah layak jika disebut sebagai otak kedua manusia modern. Kurang lebih seperti ini urutan pemecahan masalah manusia modern saat ini, baik untuk penyelesaian tugas belajar atau pekerjaannya. Pertama, menentukan target, hasil, atau luaran apa yang diinginkan. Kedua, membuka platform AI dan menuliskan perintah (prompt). Ketiga, menunggu platform AI memproses hingga keluar hasil luarannya. Langkah terakhir, membaca atau memeriksa hasil luarannya: tugas atau pekerjaan selesai. Ketika membaca atau memeriksa hasil luaran AI, seseorang melakukan proses verifikasi apakah luarannya bernilai benar.
Hari ini, rasanya sudah sangat jarang adanya proses menulis yang dimulai dari mencari artikel atau buku referensi, kemudian melakukan pendalaman secara perlahan-lahan untuk memperoleh informasi. Selain dirasa lambat atau membutuhkan waktu yang lebih lama, tuntutan yang serba cepat memaksa banyak orang memilih cara yang lebih cepat pula.
AI sebenarnya masih relatif aman jika digunakan oleh seseorang yang telah menguasai bidang dari topik yang sedang diperintahkan (di-prompt-kan). Orang tersebut dapat dikatakan memiliki kemampuan verifikasi yang kuat. Namun, jika AI digunakan oleh seseorang yang masih dalam tahap belajar atau sedang mengerjakan bidang yang tidak dikuasai, maka situasinya akan menjadi sedikit berbeda.
Seseorang yang belum memiliki kemampuan yang cukup pada bidangnya dikhawatirkan menjadikan luaran AI sebagai hasil yang langsung diyakini benar. Hal ini tergambarkan pada fenomena salin dan tempel hasil luaran AI pada tugas peserta didik dan mahasiswa yang semakin menjadi-jadi. Guru dan dosen menjadi semakin sering ‘suudzon’ kepada anak didiknya. Jika hal ini tidak ditindaklanjuti dengan regulasi dan tindakan, maka akan banyak pihak yang menjadi korban akibat prasangka tersebut.
Terlepas dari munculnya banyak prasangka terhadap peserta didik dan mahasiswa, guru dan dosen punya senjata yang sebenarnya bisa digunakan, meskipun kurang dapat dijadikan acuan. Guru dan dosen bisa menggunakan platform deteksi hasil AI yang kredibel untuk memeriksa keaslian tugas anak didiknya. Tetapi regulasi ini sebenarnya hanya tingkatan paling rendah dari sebuah kepatuhan. Level tertinggi tetap etika dalam penggunaan itu sendiri.
AI dalam Perspektif Pendidikan
Manusia yang memiliki kesadaran seharusnya berani untuk menahan diri untuk tidak menggunakan AI secara membabi buta tanpa keterlibatan proses berpikir di dalamnya. Beberapa riset membuktikan bahwa penggunaan AI dalam konteks produktivitas tertentu menyebabkan penurunan daya berpikir manusia. Para peniliti di MIT Media Lab membuktikan bahwa pengguna berat AI mengalami penurunan drastis pada aktivitas jaringan saraf yang bertanggung jawab atas pemrosesan informasi mendalam.
Pelemahan daya otak sebagai dampak penggunaan AI dirasa sangat logis jika mengingat bagaimana cara penggunaannya. Pengguna yang hanya melakukan perintah kemudian mendapatkan hasil luarannya, secara level kognitif Taksonomi Bloom hanya berkutat pada proses mengetahui (C1), memahami (C2), dan menerapkan (C3). Bahkan jika pengguna hanya sekadar membaca luarannya tanpa proses pemaknaan atau bahkan mengaplikasikannya, maka level kognitifnya hanya berada di C1 (mengetahui). Kondisi tersebut tentu sangat jauh dari tercapainya pembelajaran yang mendalam (deep learning) dalam proses belajar. Jika proses belajar tidak mencapai deep learning, maka akan sulit menerapkan ilmu pengetahuan tersebut secara kontekstual. Kebermanfaatan proses belajar tersebut sulit menyentuh kehidupan sehari-hari. Padahal, saat ini kita sedang dituntut untuk dapat mencapai berpikir tingkat tinggi yang meliputi level kognitif C4 (menganalisis), C5 (mengevaluasi), dan C6 (mencipta). Level kognitif tersebut sangat diperlukan untuk memecahkan berbagai permasalahan di era modern yang memerlukan ketelitian , kecepatan, dan akurasi tinggi.
Pilihan Etis dalam Penggunaan AI
Saat ini, AI menjadi standar algoritma manusia dalam menyelesaikan tugas atau pekerjaan manusia dalam proses pemecahan masalah. Jika dilihat dari sisi kemajuan teknologi, maka kehadiran AI merupakan sebuah keniscayaan. AI pasti akan lahir akibat dari proses berpikir manusia, terlebih lagi setelah munculnya teknologi komputer. Tidak ada yang salah ketika manusia modern menggunakan AI untuk mendukung penyelesaian tugas atau pekerjaannya. AI memberikan dimensi lain dari penyelesaian sebuah tugas atau pekerjaan, terutama pada proses pengumpulan informasinya yang sangat cepat dan dapat diandalkan.
Manusia modern saat ini dituntut untuk bekerja secara cepat, presisi, dan berdampak besar untuk memenangkan kompetisi yang semakin ketat. Penggunaan AI akan menjadi salah dan mengkhawatirkan jika pengguna secara mentah-mentah mempercayai hasil luaran AI tanpa proses verifikasi berulang untuk memastikan kebenarannya. Di sisi yang lain, hal paling etis dalam penggunaan Artificial Intelligence adalah ketika penggunanya menggunakan AI untuk pengumpulan informasi, penggalian ide, dan teman belajar. Selebihnya, manusialah yang harus aktif berpikir untuk menguraikan informasi, menilai, dan menciptakan hasil akhirnya.
Tags
Humaniora
