Oleh: Fuady Abdullah
Dosen Fakultas Syariah
UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo
Ketika seseorang ditempatkan dalam posisi "harus menang" demi memuaskan pengikutnya (followers) atau mempertahankan persona publiknya, maka yang terjadi adalah penggelembungan ego secara brutal. Dalam situasi ini, kebenaran menjadi urusan sekian.
Beberapa waktu yang lalu ruang publik kita disuguhi tontonan yang mengusik sekaligus memprihatinkan. Di bawah sorot lampu studio televisi nasional, sebuah forum yang semestinya menjadi ajang pertukaran gagasan intelektual merosot menjadi arena sirkus emosi. Seorang figur publik, yang selama ini dikenal dengan retorika provokatifnya, akhirnya dipaksa meninggalkan panggung setelah rangkaian kata-kata kotor meluncur dari mulutnya. Masyarakat heboh, netizen menghujat, dan potongan videonya menjadi komoditas viral yang dikonsumsi jutaan pasang mata.
Namun, jika mau sedikit menarik diri dari keriuhan itu, kita akan menyadari bahwa ledakan amarah dan perilaku narsistik tersebut bukanlah sebuah anomali yang berdiri sendiri. Ia bukan sekadar "kesalahan teknis" di sebuah acara talkshow. Sebaliknya, ia adalah buah matang dari sebuah ekosistem komunikasi yang luas: mulai dari kolom komentar media sosial hingga panggung televisi yang selama bertahun-tahun kita siram dengan hasrat akan konflik. Perilaku tersebut adalah manifestasi dari budaya debat modern yang secara perlahan namun pasti menanamkan "glorifikasi terhadap diri" (the self), di mana kemenangan ego jauh lebih berharga daripada penemuan kebenaran.
Amplifikasi Media dan Nutrisi Ego
Televisi, dalam hal ini, berperan sebagai pengeras suara raksasa (amplifikator). Namun, benih-benih perilakunya sudah lebih dulu disemai di ladang digital kita. Dalam logika algoritma media sosial dan industri penyiaran, rating dan engagement adalah panglima. Dan apa yang paling cepat memancing perhatian? Bukan diskusi yang tenang dan mendalam, melainkan benturan (clash).
Budaya debat pro-kontra yang kaku telah menciptakan dikotomi biner yang berbahaya di seluruh lapisan masyarakat. Di sana, seorang pembicara, baik di balik layar ponselnya maupun di depan kamera studio, tidak hadir untuk belajar atau mendengarkan, melainkan untuk menyerang dan bertahan. Ketika seseorang ditempatkan dalam posisi "harus menang" demi memuaskan pengikutnya (followers) atau mempertahankan persona publiknya, maka yang terjadi adalah penggelembungan ego secara brutal. Dalam situasi ini, kebenaran menjadi urusan sekian. "Diri" yang terlihat lebih dominan, lebih keras, dan lebih tak terkalahkan merupakan tujuan utama yang ingin dicapai. Inilah proses nurturing perilaku narsistik yang terjadi secara kolektif.
Perspektif Tasawuf: Antara Munazharah dan Syahwat Intelektual
Di titik inilah, relevansi pemikiran klasik Islam, khususnya dalam tradisi tasawuf, menjadi sangat penting untuk dihadirkan kembali sebagai kritik atas modernitas yang gila hormat. Imam Al-Ghazali, dalam kitab Ayyuhal Walad, memberikan nasehat yang sangat tajam terkait aktivitas debat ini.
Dalam nasehat pertama dari delapan wasiatnya, Al-Ghazali memperingatkan dengan keras:
"...Hendaknya engkau tidak mendebat seseorang dalam suatu masalah sebisa mungkin, karena di dalamnya terdapat bahaya yang besar. Dosanya lebih besar daripada manfaatnya, karena ia adalah sumber dari segala akhlak tercela, seperti riya (pamer), hasad (iri hati), sombong, dendam, permusuhan, membanggakan diri, dan lainnya."
Al-Ghazali tidak sedang melarang pencarian ilmu, namun ia sedang membedah psikologi di balik perdebatan. Beliau melihat bahwa debat seringkali bukan jalan menuju Tuhan atau kebenaran, melainkan jalan menuju penguatan berhala dalam diri: ego. Setiap jempol dukungan di media sosial atau tepuk tangan di studio adalah nutrisi bagi kesombongan yang tersembunyi (mubāhāt).
Namun, Al-Ghazali memberikan pengecualian yang sangat elegan. Beliau menyatakan bahwa diskusi diperbolehkan jika tujuannya adalah agar kebenaran muncul dan tidak tersia-siakan. Akan tetapi, beliau menetapkan standar moral yang sangat tinggi:
"...Pertama, engkau tidak membedakan apakah kebenaran itu terungkap melalui lisanmu atau melalui lisan orang lain (lawan bicaramu)."
Inilah poin krusial yang hilang dari budaya komunikasi kita hari ini. Di ruang digital maupun televisi, kebenaran hanya dianggap "benar" jika keluar dari mulut sendiri atau kelompok sendiri. Jika kebenaran keluar dari mulut lawan, ia akan disangkal, diputarbalikkan, atau dibalas dengan makian. Kegagalan seseorang untuk menerima kebenaran dari pihak lain adalah tanda telanjang bahwa ia sedang menyembah egonya sendiri, bukan menyembah Kebenaran itu sendiri.
Menuju Diskusi yang Autentik
Peristiwa pengusiran di televisi nasional tersebut seharusnya menjadi cermin bagi kita semua, bukan sekadar bahan tertawaan. Kita harus mulai bertanya: Apakah kita masuk ke dalam ruang diskusi untuk menjadi lebih bijak, atau hanya untuk melihat "lawan" kita dipermalukan?
Budaya debat yang menekankan kemenangan ego hanya akan melahirkan masyarakat yang terbelah, penuh kebencian, dan miskin empati. Kita butuh pergeseran paradigma dari debat yang mencari pemenang menuju dialog yang mencari pemahaman. Dalam dialog, "Diri" diletakkan di bawah, sementara "Kebenaran" diletakkan di puncak tertinggi.
Kita merindukan forum-forum, baik di media sosial maupun televisi, di mana seorang pembicara bisa dengan tulus mengatakan, "Terima kasih, pendapat Anda benar dan saya salah," tanpa merasa kehilangan harga diri. Dalam pandangan tasawuf, martabat yang sejati tidak terletak pada kemenangan argumen, melainkan pada kemampuan menundukkan nafsu untuk selalu merasa benar.
Selama kita masih merayakan kegaduhan di atas substansi, maka sosok-sosok provokatif lainnya akan terus lahir dan mendapatkan panggung. Mereka hanyalah produk dari sistem komunikasi yang kita bangun bersama. Mari kembali ke nasehat Al-Ghazali untuk memeriksa hati sebelum membuka mulut atau mengetik status. Jika bicara hanya untuk memenangkan diri, maka diam adalah jalan yang lebih mulia.
Tags
Humaniora
