Kritik Sosial Puisi-Puisi Si Burung Merak



Oleh: Rensi Brilian
Mahasiswa Tadris Bahasa Indonesia
UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo

Dengan menggunakan simbol-simbol dari kehidupan sehari-hari dan bahasa yang mudah dipahami, Rendra menyampaikan suara orang-orang biasa sekaligus menantang pihak berkuasa yang tidak adil. Julukan "penyair bengal" dan "burung merak" bukan sekadar simbolisasi, tetapi bagian dari komitmennya terhadap keadilan sosial. 

Sastra salah satunya berperan sebagai cerminan kehidupan masyarakat. Artinya, sastra mencerminkan berbagai aspek kehidupan seperti dinamika, konflik, dan harapan yang ada. Di antara para penulis Indonesia, W.S. Rendra terkenal karena aktif menyisipkan kritik sosial dalam karyanya. Puisi-puisi yang ia tulis tidak hanya berfokus pada keindahan secara estetika, tetapi juga sebagai saluran untuk menyampaikan berbagai isu, seperti ketidakadilan, kemiskinan, dan penyalahgunaan kekuasaan. Tulisan ini hendak mengungkapkan bagaimana Rendra menyampaikan kritik sosial melalui puisinya, serta pesan apa yang ingin disampaikan kepada masyarakat.

Puisi, menurut Rendra, bukan hanya cara untuk menyampaikan perasaan pribadi atau bermain dengan kata-kata. Ia percaya bahwa sastra harus berkaitan dengan kenyataan sosial dan bisa menjadi pemantik perubahan. Dalam esainya, Rendra mengatakan bahwa penyair adalah "suara hati yang terluka karena ketidakadilan." Ide ini sesuai dengan teori kritik sastra yang melihat seni sebagai alat untuk menentang kekuasaan, seperti yang diungkapkan para pemikir Marxis seperti Antonio Gramsci, yang memandang budaya sebagai tempat terjadinya perang hegemoni.

Julukan "penyair bengal" diberikan kepada Rendra karena sikapnya yang suka menentang, serta tidak takut mengkritik pemerintahan Orde Baru melalui puisi dan pertunjukan Teater Kecilnya. Ia juga menciptakan sendiri metafora "burung merak", yaitu burung yang bulunya indah namun terlihat waspada dan tajam. Menurut Rendra, seorang penyair harus punya rasa estetika yang baik sekaligus kemampuan menganalisis realitas secara tajam. Dua hal ini menjadi dasar dalam puisi-puisinya yang banyak menyampaikan protes, namun tetap menjaga keindahan bahasa.

Rendra kerap mengangkat tema kemiskinan struktural, keserakahan elit, dan ketidakpedulian penguasa. Dalam puisi “Sajak Seonggok Jagung”, misalnya. Dalam puisi tersebut, Jagung sebagai simbol salah satu makanan pokok, digambarkan terpenjara di dalam lumbung. Hal ini sebagai metafora bahwa faktanya kekayaan alam Indonesia dikuasai oleh segelintir elite. Rendra mengkritik paradoks: kekayaan melimpah di tengah kelaparan rakyat, sementara kekuasaan abai terhadap kondisi tersebut. Tema ini relevan dengan kondisi Indonesia tahun 1970–1980-an, ketika kesenjangan ekonomi menganga di bawah rezim yang korup.

Rendra menggunakan bahasa yang tegas dan jelas, serta jauh dari kata-kata yang rumit dan elit. Ia memilih simbol-simbol dari kehidupan sehari-hari seperti jagung, sungai, atau gerobak agar pesannya bisa sampai kepada kalangan rakyat kecil. Dalam puisi "Sajak Seonggok Jagung", jagung diberi suara melalui cara personifikasi, sehingga jagung (yang sebenarnya tidak dapat berbicara) bisa menjadi sarana untuk menyampaikan suara para petani miskin, buruh, dan warga yang terkena penggusuran. Gaya ini tidak hanya memperkuat kritiknya, tetapi juga mengajak pembaca untuk memperhatikan realitas yang sering kali terabaikan.

Karya Rendra tidak hanya membuat orang-orang sadar, tetapi juga memicu reaksi keras dari pemerintah. Puisi-puisinya sering dicekal, dan pertunjukannya sering dihentikan. Namun, inilah kekuatan kritik sastranya: dia menunjukkan bahwa puisi bisa menjadi alat yang kuat untuk melawan pemerintahan otoriter. Sampai sekarang, tema-tema dalam puisi Rendra masih sangat relevan. Masalah kemiskinan, kekuasaan kelompok elit, dan ketidakadilan dalam penggunaan lahan masih terus muncul, sehingga puisinya terus menjadi cermin bagi masyarakat Indonesia.

W.S. Rendra berhasil mengubah puisi menjadi alat kritik sosial yang tajam namun tetap indah. Dengan menggunakan simbol-simbol dari kehidupan sehari-hari dan bahasa yang mudah dipahami, ia menyampaikan suara orang-orang biasa sekaligus menantang pihak berkuasa yang tidak adil. Julukan "penyair bengal" dan "burung merak" bukan sekadar simbolisasi, tetapi bagian dari komitmennya terhadap keadilan sosial. Karya Rendra hingga kini masih relevan, mengingatkan kita bahwa sastra bukan hanya tentang keindahan, tetapi juga tanggung jawab moral untuk terus menentang ketidakadilan. Karena itu, karya Rendra layak dikaji ulang sebagai bagian dari pembelajaran kritis bagi generasi muda Indonesia.

Editor: R. Agnibayaa

Lebih baru Lebih lama

نموذج الاتصال