Oleh: Kharisul Wathoni
Dosen Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan
UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo
“Membaca adalah jendela dunia, tetapi banyak dari kita memilih menutup tirainya.” Pernyataan ini menggambarkan realitas bahwa akses saja tidak cukup; tanpa kemauan membaca, literasi tidak akan tumbuh.
Setidaknya terdapat empat tipologi pembaca buku jika dilihat dari relasinya dengan aktivitas membaca dan kepemilikan sumber bacaan.
Pertama, mereka yang tidak suka membaca dan tidak memiliki koleksi buku. Kedua, mereka yang memiliki koleksi buku, tetapi tidak gemar membaca. Ketiga, mereka yang gemar membaca, namun tidak memiliki koleksi buku. Keempat, mereka yang gemar membaca sekaligus memiliki koleksi buku. Empat tipologi ini bukan sekadar klasifikasi, tetapi cermin wajah literasi kita.
Tipologi pertama adalah yang paling memprihatinkan: tidak membaca dan tidak memiliki buku. Inilah kondisi paling “kering” dalam lanskap literasi. Jika hal ini terjadi pada masyarakat yang tidak tersentuh pendidikan formal, mungkin masih bisa dimaklumi. Namun, ketika fenomena ini menjangkiti mereka yang hidup di lingkungan pendidikan, dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi, maka ini menjadi alarm serius.
Sebagaimana diingatkan oleh Najwa Shihab, “Membaca adalah jendela dunia, tetapi banyak dari kita memilih menutup tirainya.” Pernyataan ini menggambarkan realitas bahwa akses saja tidak cukup; tanpa kemauan membaca, literasi tidak akan tumbuh.
Lebih tegas lagi, Taufik Ismail, sastrawan sekaligus budayawan Indonesia, pernah menyebut fenomena ini sebagai “tragedi nol buku,” yakni kondisi ketika seseorang menamatkan pendidikan tanpa pernah benar-benar menuntaskan satu buku pun secara utuh. Ini bukan sekadar kritik, tetapi tamparan keras bagi sistem pendidikan kita.
Tipologi kedua adalah mereka yang memiliki koleksi buku, tetapi tidak gemar membaca. Buku menjadi pajangan, bukan santapan intelektual. Aktivitas membeli buku terasa menyenangkan, tetapi membaca sering tertunda hingga akhirnya terlupakan. Dalam banyak kasus, mereka bahkan membeli buku yang sama lebih dari sekali karena tidak pernah benar-benar membacanya.
Fenomena ini sejalan dengan sindiran halus Umberto Eco, novelis Italia, yang mengatakan bahwa perpustakaan pribadi bukan sekadar kumpulan buku yang sudah dibaca, tetapi juga pengingat akan banyaknya buku yang belum kita baca. Namun, tanpa disiplin membaca, koleksi itu berubah menjadi “museum niat baik” yang tak pernah diwujudkan.
Tipologi ketiga adalah mereka yang gemar membaca, tetapi tidak memiliki koleksi buku yang memadai. Mereka ini adalah “pemburu ilmu” yang gigih: rajin ke perpustakaan, meminjam dari teman, atau mencari akses gratis. Dalam banyak hal, mereka lebih baik daripada tipe kedua karena esensi literasi adalah membaca, bukan memiliki.
Hal ini selaras dengan pandangan Malcolm X, pejuang anti rasialisme, yang berkata, “Education is the passport to the future, for tomorrow belongs to those who prepare for it today.” Membaca, dalam konteks ini, adalah bentuk persiapan terbaik. Namun, keterbatasan kepemilikan buku sering membuat mereka kesulitan untuk mengulang, merujuk, dan mendalami bacaan yang pernah mereka nikmati.
Adapun tipologi keempat adalah tipe ideal: mereka yang gemar membaca sekaligus memiliki koleksi buku. Inilah profil seorang pegiat literasi sejati. Buku bukan sekadar benda, tetapi sahabat berpikir. Koleksi bukan sekadar hobi, tetapi investasi intelektual. Tipe keempat ini relevan dengan pandangan filsuf Francis Bacon, “Reading maketh a full man.” Membaca membentuk kepenuhan diri: cara berpikir yang tajam, wawasan yang luas, dan kebijaksanaan dalam bersikap.
Bagi tipe ini, buku adalah bagian dari hidup. Ia mungkin lupa tanggal-tanggal kecil dalam hidupnya, tetapi tidak dengan buku yang ia miliki dan baca. Namun, tentu saja, ungkapan “buku adalah istri kedua” cukup dipahami sebagai metafora, yakni kecintaan pada buku begitu dalam, tanpa mengurangi tanggung jawab pada kehidupan nyata.
Pada akhirnya, pertanyaannya bukan kita berada di tipe mana, tetapi: ke mana kita ingin bergerak? Literasi bukan takdir, melainkan pilihan yang dibentuk oleh kebiasaan. Dan kebiasaan membaca, sekecil apa pun dimulai, selalu punya potensi untuk mengubah arah hidup seseorang.
Tags
Humaniora
