Oleh: M. Thoha Ainun Nadjib
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam
UIN Kiai Ageng Muhammad besari
Harga beras, cabai, dan kontrakan terus naik, sementara upah riil seret. Menurut teori konsumsi Keynesian, tanpa daya beli yang kuat, pertumbuhan hanyalah angka kosmetik: cantik di laporan, tapi nihil di pasar.
BPS baru saja mengumumkan pertumbuhan ekonomi kuartal II 2025 mencapai 5,12%. Di atas kertas, angka ini terlihat sehat, bahkan melebihi proyeksi banyak lembaga. Tapi masyarakat langsung bertanya: kalau ekonomi tumbuh seindah itu, kenapa mie instan tetap jadi menu penyelamat akhir bulan?
Pertumbuhan ekonomi memang dihitung lewat Produk Domestik Bruto (PDB). Namun, cara PDB dihitung ternyata menyimpan drama tersendiri. Salah satu penyumbang lonjakan adalah Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) alias investasi. Masalahnya, “investasi” ini sebagian besar datang dari proyek-proyek yang masih di awang-awang: janji membangun 3 juta rumah, MRT di Bali, hingga impor alutsista yang entah kapan jadi nyata.. Secara metodologis, hal ini sah dicatat, tetapi wajar bila publik bertanya: apakah pertumbuhan yang bersumber dari proyeksi dan impor benar-benar mencerminkan denyut ekonomi sehari-hari?
Dalam teori Keynes (teori ekonomi berdasarkan pemikiran John Maynard Keynes), pertumbuhan sejati datang dari belanja produktif yang menciptakan multiplier effect. Tapi kalau belanja dimasukkan lewat impor senjata atau proyek yang belum jelas progresnya, multipliernya bisa jadi cuma angka di Excel. Hasilnya, pertumbuhan ini terasa seperti kue ulang tahun: indah di meja rapat, tapi rakyat hanya bisa melihat dari balik kaca.
Lebih runyam lagi, kritik muncul soal bagaimana komunikasi data pertumbuhan dilakukan. Alih-alih membangun ruang dialog yang terbuka, publik justru sering hanya menerima angka jadi tanpa tahu proses di baliknya. Padahal, ekonomi seharusnya ilmu yang transparan, di mana metodologi bisa diuji dan diperdebatkan secara akademis, bukan sekadar angka yang diumumkan seperti hasil undian.
Sementara itu, realita sehari-hari tetap kontras. Harga beras, cabai, dan kontrakan terus naik, sementara upah riil seret. Menurut teori konsumsi Keynesian, tanpa daya beli yang kuat, pertumbuhan hanyalah angka kosmetik: cantik di laporan, tapi nihil di pasar.
Indikator alternatif sebetulnya lebih jujur: Gini ratio (metode yang digunakan agar bisa mengukur tingkat ketimpangan ekonomi yang terdapat dalam sebuah populasi) masih tinggi, pengangguran terdidik belum tertangani, dan ekonomi informal tetap jadi penopang. Amartya Sen, ekonom-filsuf India, pernah bilang, "pembangunan sejati bukan soal angka, melainkan soal memperluas kemampuan manusia." Kalau rakyat masih harus utang dulu kemudia bayar belakangan di warung, maka 5,12% hanyalah statistik di awang-awang.
Maka, mari kita sambut angka pertumbuhan itu dengan senyum tipis saja. Ia penting, tapi jangan didewakan. Pertumbuhan ekonomi baru bermakna jika metodologinya transparan, datanya akurat, dan dampaknya terasa di dapur rumah tangga. Kalau tidak, 5,12% hanyalah headline manis, sementara dompet rakyat tetap pipih, dan mie instan tetap setia jadi menu akhir bulan.
Editor: R. Agnibayaa
Tags
Humaniora